jump to navigation

Kisah yang Menggerakkan! Januari 13, 2010

Posted by F4iz in Kupas.
Tags: , ,
add a comment

“Kisah apa yang paling berpengaruh dalam hidupmu, Iz?”

“Kisah tentang rasa syukur Rasulullah SAW yang terungkap dalam sholatnya. Kakinya yang bengkak mengundang Aisyah Ra.  mempertanyakan pelaksanaan ibadah yang tiada henti, sedangkan beliau telah terjamin masuk surga. Rasulullah menjawab: tidak bolehkah aku menjadi manusia yang bersyukur?”

“Manifestasi kata syukur yang luar biasa!”

“Kisah itu selalu menjadi pengingat bagiku. Rasulullah yang sudah dijamin mendapat pengampunan bagi dosa yang telah dan akan dilakukan ,serta jaminan masuk surga saja rela kakinya bengkak dan terluka sebagai bukti syukurnya. Apalagi seorang aku yang berjibun dosa, bukankah harus lebih keras lagi beribadah? Sungguh kisah itu cukup memberiku energi untuk selalu bergerak menuju keberartian. Kisah yang menggerakkan!”

Beban Apa, Iz? Januari 11, 2010

Posted by F4iz in Lepas.
Tags: , , , , ,
add a comment

“Lega rasanya hari ini.”

“Apa gerangan yang telah kamu tuntaskan?”

“Beban terbesarku selama ini terbagi sudah.”

“Beban apa, Iz?”

“Beban dosa.”

“Yang benar saja kamu, Iz. Mana bisa dosa dibagi?”

“Maksudku, bukan dosanya yang dibagi, Cin. Selama ini ada beban yang aku sembunyikan dari teman-teman tentang masa laluku. Semalaman aku dapat mencurahkan semuanya kepada Saysa. Saysa menjadi pendengar yang sangat baik sekaligus penasehat yang hidup. Nasehatnya terasa hidup dalam setiap bahasa geraknya.”

“Owh, asal tidak salah orang saja tidak apa-apa kamu bagi beban itu. Namun, alangkah lebih baiknya kamu keluhkan kepada Sang Pengatur seluruh kejadian yang berlalu dalam setiap kehidupan manusia, dari yang sepele sampai yang besar sekalipun. Dosa masa lalu yang menjadikanmu terbebani itu, semestinya kamu tutup rapat. Tidak penting dan tidak ada gunanya diungkap. Bukankah setiap pagi dan sore kamu minta kepada Allah untuk menutup  aibmu dari orang lain?”

“Iya juga sih. Tapi sekarang aku merasa diriku lebih ringan membaginya dengan Saysa. Dia bukan tipe orang yang suka membicarakan orang lain. Aku yakin Saysa Amanah.”

“Semoga. Namun begitu, kamu harus ketahui, Iz. Ketergantunganmu kepada Allah belum kuat. Buktinya kamu masih lebih suka membagi kegundahan dan keresahanmu kepada selain-Nya.”

“Iya, Cin. Terus mau bagaimana lagi? Aku memberitahu Saysa tentang masa laluku yang kelam itu, tidak untuk bernostalgia. Tapi selebihnya aku butuh dari Saysa nasehat dan pandangannya. Selain itu agar Saysa lebih mengerti tentang diriku yang sebenarnya. Aku pernah melakukan kesalahan besar dalam hidupku. Sehingga aku dapat belajar dari hikmah yang dia petik dari kisahku itu.”

“Syukurlah kalau Saysa adalah pendengar dan penasehat yang baik. Semoga Allah tetap menutup aibnya, aibmu dan aib orang-orang muslim semuanya. Amiin.”

“Amiin.”